Panduan Penyusunan Program Pembelajaran Individual

Panduan Penyusunan Program Pembelajaran Individual

Read More

Amongguru.com. Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kemendikbudristek telah menerbitkan  Panduan Penyusunan Program Pembelajaran Individual.

Panduan Penyusunan Program Pembelajaran Individual ini merupakan salah satu kelengkapan yang dapat digunakan untuk implementasi kurikulum pendidikan khusus, baik di sekolah luar biasa (SLB) maupun sekolah inklusi.

Penyusunan panduan ini bertujuan untuk memandu para guru di lapangan agar dapat menyusun rancangan pembelajaran individual yang sesuai untuk peserta didik berkebutuhan khusus, mengingat banyaknya permasalahan yang terjadi di lapangan.

Latar Belakang

Setiap satuan pendidikan menengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif yang wajib menerima peserta didik berkebutuhan khusus.

Kebijakan tersebut membuka kesempatan belajar bagi ABK atau warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan atau sosial untuk memperoleh pendidikan khusus, serta warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus atau sesuai kebutuhan dan kemampuannya.

Di dalam proses pendidikan, ABK dapat belajar baik di sekolah khusus atau sekolah luar biasa maupun sekolah reguler yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus atau sekolah inklusi.

Sekolah inklusi adalah sekolah yang memberikan kesempatan kepada peserta didik berkebutuhan khusus untuk belajar bersama atau bergabung dengan peserta didik-peserta didik pada umumnya (tidak berkebutuhan khusus).

Setiap anak mempunyai kemampuan, latar belakang, kebiasaan, minat, bakat dan motivasi yang berbeda-beda dalam memahami pengalaman belajarnya, karena itu, dalam pendidikan, baik di
sekolah khusus maupun sekolah inklusi, setiap ABK mempunyai kebutuhan yang khusus di samping kebutuhan yang sama.

Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2020 menjelaskan akomodasi yang layak untuk menjamin terselenggaranya dan atau terfasilitasinya pendidikan untuk peserta didik penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang dilakukan di semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan baik secara inklusif maupun sekolah khusus.

Untuk mendukung pendidikan yang sesuai dengan konteks situasi, kondisi, dan kebutuhan belajar anak berkebutuhan khusus, diperlukan penanganan yang berbeda–beda. ABK, pada umumnya, memerlukan sistem pembelajaran individual selain pembelajaran klasikal.

Pembelajaran individual yang dimaksud adalah individualisasi pembelajarannya, atau pembelajaran yang diberikan secara khusus oleh guru kepada peserta didik meskipun mereka belajar bersama atau belajar bersama-sama dalam kelompok kelas atau pembelajaran klasikal.

Layanan pembelajaran secara individual ini biasa kita sebut sebagai program pembelajaran yang diindividualisasikan atau program pembelajaran individual (PPI).

Layanan bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus

Guru belum memberikan layanan pendidikan ABK secara optimal di sekolah khusus atau sekolah luar biasa dan sekolah inklusi, Padahal, ABK sangat memerlukan layanan pendidikan sesuai dengan karakteristiknya.

Beberapa guru memberikan layanan pendidikan disamaratakan untuk satu (rombongan) kelas tanpa melihat perbedaan kemampuan awal anak. Bahkan, masih banyak guru yang menganggap layanan individual melalui program pembelajaran individual (PPI) memerlukan waktu dan merepotkan.

Guru juga sering kali tidak percaya diri untuk membuat layanan individual karena kurang pengetahuan atau wawasan terkait dengan PPI.

PPI sering tidak berkaitan dengan kurikulum reguler, ‘mengisolasi’ peserta didik berkebutuhan khusus, memberi beban kerja tambahan kepada guru, teacher oriented, dan hanya terpusat pada keterampilan tertentu dari pada aspek kognitif pembelajaran.

Pentingnya Program Pembelajaran Individdual (PPI)

Dengan dikeluarkannya peraturan pemerintah Indonesia mengenai penerapan pendidikan inklusif di beberapa sekolah percontohan, kebutuhan informasi untuk menyusun dan melaksanaan PPI semakin meningkat.

Hal ini tidak hanya terjadi di antara para guru, kepala sekolah, dan tim ahli, tetapi juga di pihak orang tua dari peserta didik berkebutuhan khusus.

PPI menjamin akuntabilitas guru yang bertanggung jawab untuk memberikan instruksi dan target kurikulum yang jelas yang harus dipenuhi dan dimonitor.

PPI juga dapat melengkapi kekurangan pada kurikulum reguler yang tidak secara komprehensif memuat area yang relevan dengan kehidupan peserta didik berkebutuhan khusus.

Selain itu, PPI memberikan struktur pembelajaran yang sistematis untuk membantu para pendidik memusatkan diri pada area pembelajaran yang penting sesuai kemampuannya.

Tujuan

1. Tujuan Umum

Secara umum, panduan PPI bertujuan meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi semua peserta didik untuk mengoptimalkan kemampuan, kemandirian, dan peran serta peserta didik di tengah masyarakat.

PPI juga bertujuan menyelaraskan antara kebutuhan peserta didik, tugas, dan perkembangan belajar peserta didik dalam upaya mengembangkan potensi peserta didik secara optimal

2. Tujuan Khusus

Secara khusus, panduan ini diharapkan dapat membantu guru dalam:

a. melaksanakan layanan pembelajaran dan memberikan akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik,

b. meningkatkan keterampilan dan kreatifitas dalam layanan pembelajaran, dan

c. membantu guru mengembangkan akomodasi yang sesuai dalam pembelajaran dan penilaian untuk peserta didik berkebutuhan khusus.

Ruang :Lingkup

Ruang lingkup panduan implementasi capaian pembelajaran pendidikan khusus ini terdiri atas penjelasan yang menyeluruh tentang PPI, yang meliputi pengertian, komponen, langkah penyusunan, dan langkah pelaksanaan PPI. Panduan ini juga akan memberi contoh praktik pelaksanaan PPI.

Pengertian

Program Pembelajaran Individual (PPI) juga dikenal dengan the Individualized Education Program (IEP) diprakarsai oleh Samuel Gridley Howe pada tahun 1871. IEP merupakan salah satu bentuk layanan pendidikan bagi peserta didik dengan status ABK.

Bentuk pembelajaran ini merupakan satu rancangan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus agar mereka mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhannya dengan lebih memfokuskan pada kemampuan dan kelemahan kompetensi peserta didik.

PPI sudah diperkenalkan di Indonesia sejak tahun 1992. PPI merupakan perjanjian tertulis antara orang tua siswa dan sekolah tentang kebutuhan siswa dan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut (Hallahan dan Kauffaman, 1996).

Pada dasarnya, kontrak layanan yang akan diberikan kepada peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) tersebut harus dirancang dan ditulis oleh multi-disciplinary team (MDT) yang bekerja sama dengan orang tua dan peserta didik itu sendiri.

Prinsip

PPI dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa prinsip-prinsip dasar, sebagai berikut.

1. PPI bertujuan menyelaraskan antara kebutuhan peserta didik, tugas, dan perkembangan belajar peserta didik dalam upaya mengembangkan potensi mereka secara optimal.

2. PPI berpusat pada peserta didik. Setiap komponen PPI difokuskan pada kemajuan dan kebutuhan siswa (kurikulum digunakan sebagai rambu-rambu).

3. PPI tidak hanya terbatas pada tujuan pembelajaran, dalam hal ini kurikulum pendidikan. Tujuan PPI juga dapat pula didasarkan pada penanganan dari hasil asesmen, misalnya, terkait keterampilan hidup sehari-hari atau perilaku adaptif (Activity Daily Living/ADL).

4. PPI tidak menentukan peserta didik, sebaliknya, peserta didik adalah subjek yang menentukan dasar pembuatan PPI. Oleh karena itu, kebutuhan, perkembangan, dan minat peserta didik menjadi orientasi dalam mempertimbangkan penyusunan PPI.

5. PPI harus bersifat dinamis, atau fleksibel terhadap berbagai perubahan dan kemajuan peserta didik, untuk diarahkan pada hasil akhir, yaitu kemandirian yang sangat berguna bagi kehidupannya, mampu berperilaku sesuai dengan lingkungannya atau berperilaku adaptif.

Fungsi

Fungsi Program Pembelajaran Individual (PPI) adalah sebagai berikut.

1. Memberi arah pengajaran dengan mengetahui kekuatan, kelemahan, dan minat peserta didik.

2. Menjamin setiap peserta didik berkebutuhan khusus memiliki program yang disesuaikan degan kebutuhannya untuk mempertemukan karakteristik kebutuhan khusus mereka dan mengkomunikasikan program tersebut kepada pihak yang berkepentingan.

3. Meningkatkan keterampilan guru yang melakukan asesmen tentang karakteristik kebutuhan belajar tiap peserta didik secara spesifik dan melakukan usaha mempertemukan antara kebutuhan-kebutuhan belajar spesifik peserta didik masing-masing dengan tujuan pembelajaran.

4. Meningkatkan komunikasi antar anggota tim untuk keberhasilan peserta didik berkebutuhan khusus dalam pendidikan.

5. Menjadi sarana bagi peningkatan usaha untuk memberikan pelayanan pendidikan yang lebih efektif. Perbedaan antara peserta didik berkebutuhan khusus sangat beragam, sehingga layanan pendidikannya bersifat individual.

Panduan Penyusunan Program Pembelajaran Individual selengkapnya dapat dibaca dan di unduh pada tautan berikut ini.

Unduh

Demikian Panduan Penyusunan Program Pembelajaran Individual. Semoga bermanfaat.

Adblock test (Why?)

Related posts